Sabtu, 12 Mei 2012

GERILYA (11-15) Menjaga Rahasia: Sifat Dasar Seorang Gerilyawan


Menjaga Rahasia: Sifat Dasar Seorang Gerilyawan
Jaga rahasiamu, jangan kau beberkan kepada siapapun, hatta kepada
isteri dan anak-anakmu. Karena tak menutup kemungkinan mereka akan
memberitahukannya kepada orang lain meskipun mungkin tujuan mereka
baik, contohnya ketika ada aparat yang menyamar tengah menelpon
rumahmu menanyakan keberadaan dirimu kemudian yang menjawab
adalah anakmu, maka bocorlah rahasia yang sebelumnya telah terjaga rapi.

Intinya
Pertama: Pentingnya berhati-hati dalam menjaga rahasia dari orang
yang ingin memperolehnya. Dan sekedar tahu, kata-kata as-sirr (rahasia)
disebut di dalam Al-Quran sebanyak 32 kali dengan ungkapan berbedabeda.
Kedua: Boleh menjatuhkan hukuman yang menimbulkan efek jera
kepada orang yang melampaui batas, dalam rangka menghentikan
perbuatan dzalim di muka bumi. Sebab Alloh juga menghukum setan yang
bertindak melampaui batas, yaitu ketika ia membocorkan rahasia-rahasia
langit, dengan langsung membunuhnya menggunakan bintang-bintang
langit yang selalu mengintai.
Begitu juga, memberitahukan dan menyebar luaskan rahasia adalah
perbuatan buruk, itu tidak boleh dilakukan kecuali terpaksa (darurat) dan
sangat mendesak yaitu ketika ada maslahat yang lebih besar daripada jika
rahasia itu disimpan.
Jika menjaga rahasia adalah wajib, maka menyebarkannya adalah
haram, karena akan menimbulkan bahaya, sementara memunculkan
bahaya itu dilarang secara syar‘i dan merupakan pelanggaran janji, Alloh l
mengharamkan khianat, serta melanggar janji. Dan dalam rangka menjaga
rahasia, para Ulama memperbolehkan berbohong agar rahasia itu tidak
diketahui orang.
Orang yang tidak bisa menjaga rahasia dan bersikap acuh ketika
rahasia itu tersebar, pada dirinya ada tiga sifat tercela:
1. Hatinya sempit dan kesabarannya kurang.
2. Lengah dari sikap waspada yang seharusnya dimiliki setiap orang
yang berakal, mengesampingkan sikap awas yang seharusnya dimiliki
oleh orang yang cerdik. Orang seperti ini sebenarnya adalah orang
yang dungu dan bodoh.
3. Ia melakukan sebuah tindakan bahaya dan penuh resiko yang tidak ia
sadari akibatnya.
Oleh karena itu, terdapat ancaman sangat keras terhadap perbuatan
menyebarkan rahasia. Renungkanlah firman Alloh Ta‘ala:

“Ayahnya (Nabi Yusuf) berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan
mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar
(untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)
Adapun dalil dari Sunnah: Nabi –Alaihi `s-Sholatu wa `s-Salam—
bersabda::
“Sungguh seseorang itu mengatakan suatu kalimat yang barangkali
hanya untuk membuat orang yang duduk dengannya tertawa, padahal itu
bisa melemparkannya sejarak lebih jauh daripada jarak antara langit dan
bumi. Sungguh seseorang bisa tergelincir lidahnya dan berakibat lebih
dahsyat daripada tergilincirnya kedua kakinya.” (HR. Baihaqi)
Berikut ini adalah contoh-contoh dari Sunnah Nabi dan para Salafus
Sholeh dalam menjaga rahasia:
1. Ketika Umar bin Khothob mengangkat Qudamah bin Madh‘un sebagai
gubernur pengganti dari Mughiroh, ia memerintahkannya untuk tidak
memberitahu siapapun. Ketika itu Qudamah tidak punya bekal (untuk
berangkat menunaikan tugas), maka isterinya pergi ke rumah
keluarga Mughiroh, ia berkata: “Pinjamilah kami bekal untuk seorang
musafir, sesungguhnya Amirul Mukminin telah mengangkat suamiku
sebagai gubernur Kufah.” Mendengar itu, isteri Mughiroh
memberitahu suaminya. Maka Mughiroh datang kepada Umar dan
meminta izin untuk masuk menemuinya, lalu ia berkata: “Anda telah
mengangkat Qudamah sebagai gubernur, dan sungguh dia adalah
orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” Umar bertanya: “Siapa yang
memberitahumu?” Ia berkata: “Wanita-wanita Madinah, mereka
memperbincangkan hal itu.” Maka Umar berkata: “Pergilah dan
cabutlah ikatan janji dari Qudamah.” (Muhaadhorootu `l-Udabaa’i
tulisan Al-Ashfahani, juz I hal. 75)
2. Ketika Nabi Muhammad berniat untuk menaklukkan Mekkah, beliau
menyuruh Aisyah untuk menyiapkan perbekalannya. Ketika tengah
sibuk menyiapkan bekal, tiba-tiba ayahnya, Abu Bakar, masuk ke
rumahnya. Ia bertanya: “Puteriku, apakah Rosululloh menyuruhmu
menyiapkan perbekalannya?” “Iya,” jawab Aisyah.“Ke manakahbeliau hendak pergi?” “Demi Alloh aku tidak mengerti.” kata Aisyah.
Beberapa saat setelah itu, Nabi n mengumumkan kepada orangorang
bahwa beliau hendak menuju Mekkah dan memerintahkan
mereka untuk bekerja keras dan bersiap-siap, kemudian berdoa:
الَلّهُمّ خُذِ الْعُيوُْنَ وَالْخَْباَرَ عَنْ قُرَيشٍْ حَتىّ نبُغِْتهَُا فِيْ بلِدَِهَا
“Ya Alloh, cegahlah mata-mata dan sumber-sumber pemberitaan dari kaum
Quraisy sampai kami kejutkan mereka di negeri mereka.”
Akan tetapi Hatib bin Abi Balta‘ah menulis surat kepada orang-orang
Quraisy memberitahukan hal itu. Ia mengirim surat itu bersama
seorang wanita dan memberinya hadiah. Wanita itu menyembunyikan
surat tadi dalam gelungan kepalanya dan Hatib bertindak begitu jauh.
Ketika itu Umar mengusulkan agar dia dibunuh, akan tetapi Nabi
memaafkannya karena dia termasuk pengikut perang Badar. Terkait
dengan peristiwa ini, turunlah firman Alloh Ta‘ala:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-
Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan
kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;
padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang
datang kepadamu, mereka mengusir Rosul dan (mengusir) kamu
karena kamu beriman kepada Alloh, Robbmu. Jika kamu benar-benar
keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku
(janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara
rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih
sayang padahal Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan
dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang
melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang
lurus.” (QS. Al-Mumtanahah: 1)
Sisi intelejen yang terdapat dalam kisah di atas adalah sikap Aisyah
yang tidak memberitahu ayahnya tentang tujuan Nabi n, Nabi n
berdoa agar Alloh mencegah mata-mata kaum Quraisy supaya beliau
mengejutkan mereka, Nabi n marah atas perbuatan Hatib, Umar
mengusulkan agar dia dibunuh, dan ancaman Alloh bagi mata-mata
dan pengkhianat.

3. Nabi n dan Abu Bakar pernah pergi ke daerah Badar dan bertemu
seseorang di tengah perjalanan, keduanya bertanya kepadanya
tentang berita-berita mengenai kaum Quraisy. Dari orang ini juga
mereka berdua tahu posisi kaum Quraisy. Tatkala memberi syarat
bahwa ia harus tahu dari kabilah mana mereka berdua, maka Nabi n
menjawab: “Terakhir, kami dari air,” lalu keduanya pergi sementara
lelaki itu kebingungan memikirkan nasab atau arah yang disebutkan
Nabi n tadi.
4. Apabila hendak pergi berperang, Nabi n menyamarkan, seolaholah
hendak menuju ke tempat lain (ber-tauriyah), misalnya ketika
hendak berangkat ke perang Hunain beliau bersabda: “Bagaimana
jalan menuju Nejed? Bagaimana kondisi airnya? Siapakah musuh
yang ada di sana.”
Beliau pernah bersabda: “Perang adalah tipu daya.”
Hakim meriwayatkan dari Aisyah: Rosululloh n membuat sandi untuk
kaum Muhajirin dalam perang Badar, yaitu: “Abdu `r-Rohman,”
“Khozroj,” dan “Abdulloh”.
Hakim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu‘: “…beliau
menentukan sandi untuk kabilah Azdi: “Ya Mabruur…ya Mabruur.”
Ahmad, Abu Dawud dan Tirmizi meriwayatkan sebuah sabda Nabi:
“Sesungguhnya di tengah-tengah kalian ada musuh, maka
ucapkanlah: Haa Miim Laa yunshoruun.”
Dan dari Salamah bin Al-Akwa‘: “Kami pernah berperang bersama
Abu Bakar di zaman Rosullulloh (masih hidup), sandi kami ketika itu
adalah: “Amit…amit…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) atau terkadang:
“Ya Manshuur…Amit.”
5. Ketika perang Uhud usai, Abu Sufyan berteriak: “Adakah
Muhammad di antara kalian? Adakah Abu Bakar di antara kalian?
Adakah Umar di antara kalian?” Nabi n memerintahkan untuk tidak
menjawab teriakannya itu, supaya kaum musyrikin tidak kembali
berperang sementara darah pada luka-luka kaum Muslimin belum lagi
mengering.
6. Juga dalam perang Uhud, setan berteriak: “Muhammad telah
terbunuh.” Mendengar itu ada sebagian kaum Muslimin yangmeletakkan senjatanya, kemudian Anas bin Nadhr melewati mereka
dan berteriak: “Apa maksud kalian duduk-duduk seperti itu?”
“Muhammad telah terbunuh.” kata mereka. Anas berkata: “Lalu
apalah arti hidup setelah kepergian Muhammad? Bangkitlah dan
marilah mati sebagaimana beliau mati.”
7. Pernah terjadi peristiwa bahwasanya Nu‘man bin Muqrin –
komandan perang Nahawand—gugur di saat pertempuran tengah
berlangsung, namun kaum Muslimin merahasiakan hal itu sampai
mereka meraih kemenangan.
Alloh Ta‘ala berfirman:
(( يعَععا أيَهَّعععا الّعععذِينَ آمََنعُععوا خُعععذُوا حِعععذْرَكمُْ فَعععانفِْرُوا ثبُعَععاتٍ أوَِ انفِْعععرُوا جَمِيعًعععا))
“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah
(ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah
bersama-sama!” (QS. An-Nisa’: 71)
Dan berfirman: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka
(sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama
mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat)
besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka
(yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat),
maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi
musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum
bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan
hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orangorang
kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta
bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak
ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu
mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu
memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Alloh telah
menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.”
(QS. An-Nisa’: 102)
Demikianlah, perang adalah tipudaya, dan tipudaya memiliki banyak
seni, ini diketahui oleh para pakar perang.   kataibil iman



Tidak ada komentar:

Posting Komentar