Senin, 14 Mei 2012

gerilya 16-19

 Berikut ini kami sebutkan beberapamasalah syar‘i terkait dengan tipudaya, yaitu:

Pertama:
Membohongi Musuha. Ketika dalam kondisi perang; dalam hal ini terdapat hadits UmmuKultsum binti ‘Uqbah s ia berkata: “Aku belum pernah mendengarRosululloh n memberi kelonggaran untuk berbohong selain ketikaseseorang mengucapkannya dalam pertempuran, atau mendamaikanorang, atau kata-kata suami kepada isteri dan isteri kepada suami.” (HR.Ahmad dan Muslim, Abu Dawud juga meriwayatkannya dari Asma bintiYazid s)b. Adapun membohongi musuh di luar kondisi perang, maka itudiperbolehkan berdasarkan beberapa alasan, di antaranya jikaberbohong itu mendatangkan mashlahat agama dan dunia bagi seorangmukmin, atau dalam rangka mengelak gangguan orang-orang kafir.Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah:

Kisah Nabi Ibrohim q. Rosululloh n bersabda: “Nabi Ibrohimtidak pernah berbohong kecuali tiga kali; dua di antaranya beliaulakukan karena Alloh k yaitu ketika beliau mengatakan: “…akusedang sakit,” dan: “…yang melakukan semua ini adalah patungterbesar ini.” Rosululloh n melanjutkan: “…suatu hari beliau bersamaSaarroh datang ke negeri seorang penguasa bengis, kemudian rajaitu diberitahu bahwa di negeri ini ada seorang lelaki bersama seorangwanita yang sangat cantik. Maka Nabi Ibrohim dipanggil, ia bertanyakepada beliau: “Siapa ini?” beliau menjawab: “Saudariku.” KemudianNabi Ibrohim menghampiri Saarroh dan berkata kepadanya; “WahaiSaarroh, di bumi ini tidak ada orang beriman selain aku dan kamu.Orang itu menanyaiku tentang dirimu maka kukatakan kepadanyabahwa kamu adalah saudariku, maka janganlah engkaumenganggapku berdusta…” (HR. Bukhori dari Abu Huroiroh, haditsno. 3358) Berbohong di dalam kisah ini ada yang dalam rangkakemashlahatan agama dan ada juga yang dalam rangka melepaskandiri dari gangguan orang-orang kafir, dan dua-duanya diperbolehkan.

Kisah Ash-habu `l-Ukhdud; tentang kisah ini terdapat riwayatdari Shuhaib a bahwasanya Rosululloh n bersabda: “Dulu ada rajayang hidup di zaman sebelum kalian, ia memiliki tukang sihir. Ketikausia tukang sihir mulai senja, ia berkata kepada raja: “Aku sudah tua,utuslah seorang pemuda kepadaku supaya kuajarkan ilmu sihir.

Maka raja itupun mengirim seorang pemuda (ghulam) untuk menjadimurid si tukang sihir. Ketika di tengah perjalanan, pemuda itumelewati seorang rahib (pendeta), lalu ia duduk dan mendengarperkataannya, ia terkesima dengan kata-kata rahib itu. Setiap kali iaberangkat ke tukang sihir, selalu ia melewati rahib dan duduk disana, maka sesampai di tempat tukang sihir, ia cambuk pemuda itu.Pemuda itu mengadukannya kepada rahib, rahib berkata: “Jika kamutakut kepada tukang sihir, katakan: Keluargaku menahanku. Jikakamu takut keluargamu, katakan: Tukang sihir menahanku.”An-Nawawi berkata, menerangkan hadits ini: “Hadits ini berisikebolehan berbohong dalam perang dan lain-lain dalam rangkamenyelamatkan nyawa dari kebinasaan, baik nyawa dirinya ataunyawa orang lain yang haram untuk dibunuh.” (Shohih Muslim biSyarhi `n-Nawawi juz XVIII/ 130)An-Nawawi berkata di tempat lain: “Mereka mengatakan: tidak adaperselisihan pendapat bahwa ketika ada orang dzalim yang inginmembunuh seseorang yang sedang bersembunyi di tempatseseorang, maka ia wajib berbohong dengan mengatakan tidak tahukeberadaan orang yang akan ia bunuh itu.” (Shohih Muslim bi Syarhi`n-Nawawi juz XVI/ 158)
Kedua:
Bolehnya Membunuh Orang Kafir Harbi Secara Diam-diam (Ightiyal)Masalah ini terisyaratkan di dalam firman Alloh Ta‘ala:
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orangmusyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasankepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagiMaha Penyayang.”
(QS. At-Taubah: 5)Al-Qurthubi v berkata: “…dan intailah mereka di tempatpengintaian…” maksudnya intailah mereka di saat mereka lengah di tempatmereka bisa diintai. Ini adalah dalil bolehnya ightiyal terhadap orang kafirsebelum mendakwahi mereka.” (Tafsir Al-Qurthubi juz VIII/ 73 cet. DarulHadits).Adapun dalil dari Sunnah: Rosululloh n pernah memerintahkan untukmembunuh Ka‘ab bin Al-Asyrof dan Abu Rofi‘, kedua-duanya adalah orangYahudi.Ibnu Hajar v berkata: “Hadits tersebut berisi bolehnya membunuhorang musyrik tanpa harus mendakwahinya terlebih dahulu jika dakwahIslam secara umum telah sampai kepadanya. Hadits tersebut juga berisibolehnya mengatakan sesuatu yang diperlukan dalam perang walaupunkata-kata itu tidak sesuai dengan yang sebenarnya.” (Fathu `l-Bari juz VII/340). Bukhori mengeluarkan hadits ini dalam Kitabul Jihad, bab: BerdustaDalam Perang dan Bab Membunuh Orang Kafir Harbi).Imam Nawawi v berkata: “Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Tidak bolehseorang pun mengatakan bahwa ightiyal adalah mengkhianati janji, dulupernah ada seseorang mengatakannya di majelis ‘Ali bin Abi Tholib a makaia perintahkan agar orang itu dipenggal lehernya.” (Shohih Muslim biSyarhin Nawawi : XII/160)Bolehnya membunuh orang-orang kafir Harbiy ini diperkuat dengankisah pembunuhan Ibnu Abi `l-Huqoiq, seorang Yahudi asal Khaibar. Dialahorang yang pergi ke Mekkah dan membujuk rayu orang-orang Quraisyperihal Nabi n hingga akhirnya mereka bersekutu dalam perang Ahzab,dialah yang menyulut pecahnya perang Ahzab.Bukhori meriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib ia berkata: “Rosulullohn mengutus satu pasukan kepada Abu Rofi’--- nama lain Ibnu Abil Huqoiq,pent. ---, maka Abdulloh bin ‘Atiq masuk ke kediamannya di malam hariketika ia terlelap tidur lalu membunuhnya.” (Shohih Bukhori hadits no. 40)‘Abdulloh bin ‘Atiq melakukan berbagai kamuflase sehingga iaberhasil membunuhnya. Ia melakukan kamuflase sehingga berhasil masukke dalam benteng, kemudian ia tutup pintu orang-orang Yahudi dari luar, iaberjalan hingga sampai ke tempat Abu Rofi’, tidaklah ia memasuki sebuahpintu kecuali ia kunci dari dalam, ia juga merubah suaranya sehingga tidakdikenali.Ibnu Hajar berkata: “Termasuk faedah hadits ini adalah:- Bolehnya membunuh orang musyrik secara diam-diam, yang sudahdidakwahi tapi tetap musyrik, atau orang yang melakukan konspirasi untukmemerangi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan tangan, harta,atau lisannya.- Bolehnya melakukan spionase terhadap orang-orang kafir Harbi sertabersikap keras dalam memerangi orang musyrik, boleh juga menyamarkanucapan untuk tujuan maslahat, dan diperbolehkan juga bagi pasukan Islamyang sedikit menerobos orang musyrik yang berjumlah banyak.” (Fathu `l-Bari juz VII/345)Semisal dengan kisah pembunuh thoghut-thoghut itu adalah kisahpembunuhan Kholid bin Sufyan Al-Hudzali, seperti diriwayatkan oleh ImamAhmad, Abu Dawud dan Baihaqi dari Abdulloh bin Unais ia berkata,“Rosululloh n memanggilku lalu bersabda, “Telah sampai berita kepadakubahwa Kholid bin Sufyan mengumpulkan manusia untuk memerangiku dankudengar dia berada di ‘Aronah, datangilah dia dan bunuhlah dia.”Aku berkata, “Wahai Rosululloh, sebutkan ciri orangnya sehingga aku bisamengenalinya.”“Jika engkau melihatnya, tubuhnya agak menggigil.”“Maka aku berangkat sembari menyandang pedangku, hingga aku berhasilmenemukan orang itu di Aronah bersama beberapa wanita yangmenyertainya di dalam rumah, ketika itu waktu sholat Asar tiba. Ketika akumelihatnya, ternyata dia persis seperti yang digambarkan Rosululloh n yaitubadannya menggigil. Aku menghampirinya, tapi aku khawatir aku tidak bisasholat karena tidak ingin terhalang dari dia, maka aku sholat dengan isyaratkepala ketika ruku dan sujud, sambil terus berjalan menghampirinya.Ketika aku sampai ke posisinya, ia berkata, “Siapa kamu?”“Lelaki yang mendengar berita tentang dirimu dan tindakanmumemobilisasi massa untuk menyerang Muhammad, aku datang untukurusan itu.” jawabku.Ia berkata, “Benar, aku memang melakukannya.”Maka aku berjalan beriringan dengannya beberapa langkah hingga ketikaaku berhasil mengambil posisi yang tepat, aku tusuk dia dengan pedanghingga tewas. Kemudian aku pergi dan kubiarkan wanita-wanitanya itubersungkur pada jasadnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar