Rabu, 23 Mei 2012

Madu, Dalam Penyembuhan Luka


Tujuan tulisan ini adalah memberikan gambaran kandungan dan sifat madu sehingga madudapat digunakan sebagai alternatif terapi topikal pada perawatan luka.
Kandungan dan sifat madu dapat berbeda tergantung dari sumber madu (Gheldof et al., 2002;Gheldof and Engeseth, 2002). Pada saat ini salah satu madu yang cukup dikenal luas dalamperawatan luka adalah Manuka Honey. Madu lebih efektif digunakan sebagai terapi topikal karenakandungan nutrisi dan sifat madu.
Madu mempunyai osmolaritas yang tinggi merupakan larutan yang mengalami supersaturasi dengan kandungan gula yang tinggi danmempunyai interaksi kuat dengan molekul air sehingga akan dapat menghambat pertumbuhanmikroorganisme dan mengurangi aroma pada luka. Salah satunya adalah pada luka infeksi yangdisebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Seperti yang dilaporkan Cooper et al (1999), hasilstudi laboratorium menunjukkan madu memiliki efek anti bakteri pada beberapa jenis luka infeksi,misalnya bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian lain melaporkan madu alam dapatmembunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Clostritidium (Efem & Iwara, 1992). Luka dapatmenjadi steril terhadap kuman apabila menggunakan madu sebagai dressing untuk terapi topikal.Selain itu pH yang rendah (3,6-3,7) dari madu dapat mencegah terjadinya penetrasi dan kolonisasikuman (Efem, 1998). Apabila terjadi kontak dengan cairan luka khususnya luka kronis, cairan lukaakan terlarut akibat kandungan gula yang tinggi pada madu, sehingga luka menjadi lembap dan halini dianggap baik untuk proses penyembuhan.
Bila madu dilarutkan dengan cairan (eksudat) pada luka, hidrogen peroksida akan diproduksi. Halini terjadi akibat adanya reaksi enzim glukosa oksidase yang terkandung di dalam madu yangmemiliki sifat antibakteri. Proses ini tidak menyebabkan kerusakan pada jaringan luka dan jugaakan mengurangi bau yang tidak enak pada luka khususnya luka kronis. Hidrogen peroksidadihasilkan dalam kadar rendah dan tidak panas sehingga tidak membahayakan kondisi luka (Molan,1992). Selain itu hidrogen peroksida yang dihasilkan tergantung dari jenis dan sumber madu yangdigunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sel darah lymphosit B and lymphosit T dapatdistimulasi oleh madu dengan konsentrasi 0.1% (Abuharfeil et al.,1999). Adanya aktivitas limfositdan fagosit ini menunjukkan respons kekebalan tubuh terhadap infeksi khususnya pada luka.
Madu yang bersifat asam dapat memberikan lingkungan asam pada luka sehingga akan dapatmencegah bakteri melakukan penetrasi dan kolonisasi. Selain itu kandungan air yang terdapatdalam madu akan memberikan kelembapan pada luka. Hal ini sesuai dengan prinsip perawatanluka modern yaitu “Moisture Balance”. Hasil penelitian Gethin GT et al (2008) melaporkan madudapat menurunkan pH dan mengurangi ukuran luka kronis (ulkus vena/arteri dan luka dekubitus)dalam waktu dua minggu secara signifikan. Hal ini akan memudahkan terjadinya proses granulasidan epitelisasi pada luka.
Madu dapat digunakan untuk terapi topikal sebagai dressing pada luka ulkus kaki, luka dekubitus,ulkus kaki diabet, infeksi akibat trauma dan pasca operasi, serta luka bakar. Madu dapatmempercepat masa penyembuhan luka bakar (Evan and Flavin, 2008; Jull et al.,2008).
Ada beberapa tips yang dapat dipakai saat merawat luka dengan terapi madu (Molan, 2001): a. Gunakan jumlah madu sesuai dengan jumlah cairan atau eksudat yang keluar dari luka. b. Frekuensi penggantian balutan tergantung pada cepatnya madu terlarut dengan eksudat luka.Jika tidak ada cairan luka, balutan dapat diganti dua kali seminggu supaya komponenantibakteri yang terkandung di dalam madu dapat terserap ke dalam jaringan luka. c. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, gunakan second dressing yang bersifat absorbent. Jikamadu digunakan langsung pada luka, madu akan meleleh sehingga keluar area luka. Hal initidak akan efektif untuk merangsang proses penyembuhan luka. d. Gunakan balutan yang bersifat “oklusif”, yaitu menutup semua permukaan luka untukmencegah madu meleleh keluar dari area luka. e. Pada cairan luka yang sedang, sebaiknya gunakan transparent film sebagai second dressing. f. Pada abses (nanah) dan undermining (luka berkantong), perlu lebih banyak madu untukmencapai jaringan di dalamnya. Dasar luka harus diisi dengan madu sebelum ditutup dengansecond dressing seperti kasa atau dressing pad lainnya. g. Untuk memasukkan madu pada luka berkantong, sebaiknya gunakan kasa atau dressing padsehingga kerja kandungan madu lebih efektif.
Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa manfaat madu dari zat dan sifat yang terkandung didalamnya sangat efektif dan ekonomis untuk perawatan luka. Hal ini sangat potensialdikembangkan di Indonesia yang memiliki beragam jenis madu. Di beberapa rumah sakit diIndonesia, madu telah digunakan sebagai terapi topikal, tetapi sampai saat ini belum ada hasilpenelitian secara klinis dan laboratorium yang melaporkan bahwa madu Indonesia efektif untukperawatan luka. Berdasarkan fakta ini, perlu dilakukan penelitian terhadap madu yang terdapat diIndonesia, terkait dengan penggunaannya sebagai alternatif perawatan luka yang ekonomis, aman,mudah didapat, dan mudah digunakan oleh tenaga medis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar