Kamis, 17 Mei 2012

MUSUH DAN SKALA PRIORITAS


Bagian pertama

Refleksi sejarah
Bagian dari keanehan, gerakan-gerakan jihad sepakat soal daftar musuh, tapi beda pendapat tentang nomor urutnya. Siapa yang dibidik duluan, dan siapa yang ditunda kemudian. Kecuali belakangan ini, saat semua daftar musuh merapatkan barisan sehingga terkuak wajah aslinya yang semula kurang tampak nyata.

Agar tak berpanjang kata, segera akan saya jelaskan dahulu siapa musuh-musuh kita melalui makar yang mereka laksanakan pada abad lalu. Setelah itu, kita menyusunnya dalam nomor urut untuk diketahui siapa yang akan kita garap duluan dan siapa yang kita tunda untuk beberapa waktu kemudian sesuai fase-fase yang kita rumuskan.

Sebelum saya masuk ke isi, saya merasa perlu untuk mengingatkan satu hal terlebih dahulu. Membaca sejarah. Ya, sekali lagi, membaca sejarah. Lebih khusus sejarah dinamika amal islami, khususnya pada abad lalu.


Kilasan Sejarah Musuh

Agar lebih singkat, saya membagi program musuh dalam dua fase besar. Demikian pula dalam menjelaskan karakteristik tiap fase, saya hanya akan menyebutkan poin-poin pentingnya meski tema ini menarik. Kita – orang Arab – suka kalimat singkat. Fase-fase tersebut adalah:

Fase Pertama: Pasca runtuhnya Khilafah Turki Usmani dan era penjajahan yang berakhir dengan munculnya rejim boneka.

Fase ini, sebagaimana pada rentang waktu lebih ke belakang, musuh menyiapkan berbagai krisis baik pemberontakan lokal, krisis ekonomi, maupun strategi pengucilan khilafah secara global. Musuh melakukan ini sebagai muqoddimah untuk runtuhnya khilafah Turki Usmani.

1- Eropa menyerang Turki dan meluaskan penjajahan sehingga tanah dunia Islam baik barat maupun timur dicaplok para penjajah Eropa tanpa ada hambatan yang berarti. Mereka mendapat harta karun tak ternilai harganya. Semantara para pemiliknya – umat Islam – tersesat sehingga tak menemukan arah perjalanan, Eropa membimbing tangan mereka, tapi justru makin terjerumus dalam kebingungan dan fatamorgana.

2- Perang dunia. Perang dunia terjadi karena Barat mengusai senjata, sehingga mereka leluasa menggunakannya untuk menjarah kekayaan dunia. Pertempuran terjadi antar sesama mereka, memperebutkan kekayaan umat Islam. Pemenang persaingan yang kemudian memegang kendali. Oleh karenanya, kendali dunia dipegang bergantian. Kadang oleh Inggris, kadang Perancis, Jerman, Italia, Rusia lalu Amerika. Terakhir akan kembali ke tangan umat Islam, bi-idznillah.

3- Pemecahan teritorial umat Islam dan ‘penanaman’ bangsa Israil. Realita yang disepakati, bahwa kekuatan dan kemerdekaan umat Islam dipengaruhi banyak unsur; modernitas yang dicapai, jumlah penduduk, luas teritorial, kekayaan sumber daya alam dan kekuatan militernya. Agenda utama musuh, melumpuhkan kekuatan ini. Mereka memecah umat dalam siklus berikut; mengerat dunia Islam menjadi negara-negara kecil, dengan penguasanya yang tak didukung rakyatnya sendiri, rakyat yang lemah ekonomi, potensi ekonomi ada tapi tak punya kekuatan melindunginya, kekuatan ada tapi tak punya sentimen agama, punya agama tapi tak ada pengikutnya, punya pengikut tapi tak punya tanah, punya tanah tapi tak ada rakyatnya, dan begitu seterusnya. Mereka mengerat umat Islam yang utuh menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil yang dipegang para ‘budak’. Mereka memunculkan sentimen kesukuan dan kebangsaan. Mereka memunculkan sentimen Arab dengan meninggalkan sentimen keumatan. Lalu muncul sentimen Teluk meninggalkan sentimen Arab. Misalnya, mereka mendirikan Komite Kerjasama Negara-negara Teluk, dengan meninggalkan masyarakat Yaman yang jumlahnya tidak sedikit. Sampai akhirnya mucul sekedar sentimen suku. Umat Islam bagai tersesat di lembah tanpa ujung. Gelap tanpa secercah cahaya. La haula wa la quwwata illa billah. Inilah atmosfer yang mendukung hadirnya Israel, bahkan mereka tumbuh dan makin kuat karenanya.

Menarik, apa yang diungkapkan oleh semantara pengamat soal sebab ‘penanaman’ Israel di bumi Palestina. Israel ditanam di tengah komunitas Arab yang muslim. Kata mereka, dalam rangka memecah belah umat Islam, atau sebagai representasi Barat di kawasan Arab, atau analisa lain yang semuanya keluar dari akar persoalan yang sebenarnya. Hasil analisa semacam ini hanya akan melahirkan kesimpulan; dimungkinkan untuk hidup berdampingan dengan Israel.

Tapi bagi yang memahami akar permasalahannya dengan benar, sejatinya permusuhan dengan Israel bersifat ideologis sehingga tak mungkin didamaikan. Mereka datang menginjakkan kaki di Palestina karena motif ideologis, bahwa tanah Palestina dijanjikan buat kaum Yahudi dan para pengikut Perjanjian Baru (Kristen). Tanah yang dijanjikan itu, menurut mereka, kini sedang dikangkangi oleh pihak yang tidak berhak; umat Islam. Maka tak ada kata damai dalam keyakinan mereka. Permusuhan ini ideologis, tak mungkin ada damai dan hidup berdampingan.

Dengan memahami akar masalah ini, kita memiliki titik tolak perjalanan yang benar. Kita yakin, pertarungan ini tak akan keluar dari apa yang di-nubuwat-kan oleh Rasulullah saw bahwa kemenangan pada akhirnya akan berpihak kepada umat Islam. Persoalannya, apakah kita cukup memenuhi kualifikasi sebagai tentara Imam Mahdi atau sebagai prajurit dalam malhamah kubra (Amagedon)?

4- Penguasa Boneka. Para penjajah Barat sadar, mereka tak akan selamanya bisa bertahan di negeri jajahan. Oleh karenanya, mereka menyiapkan penguasa boneka yang akan menjamin kepentingan jangka panjang mereka sebagai penjajah. Dengan strategi ini, mereka ibarat membidik dua burung dengan sebutir batu. Potensi perlawanan rakyat terhadap penjajah akan padam karena secara lahir telah hengkang, tapi gantinya akan tersulut perlawanan terhadap penguasa boneka tersebut. Hasilnya, negara terbelah dalam dua kubu; pihak boneka melawan pihak rakyat yang memberontak. Perpecahan internal terpelihara, kelemahan tetap langgeng, dan penjajah menonton adegan ini dengan senyum puas. Kepentingan mereka tak terganggu, darah mereka aman, bahkan mereka bisa masuk seolah sebagai penengah yang netral.

Ada dua pendekatan dalam memelihara penguasa boneka; Perancis dan Inggris.
Pendekatan Perancis, mereka menyiapkan penguasa boneka dan menanam orang di belakang layar yang akan mengendalikannya. Penguasa boneka hanya sebagai pajangan. Perhatikan pendekatan ini di Maroko.

Sementara pendekatan Inggris, mereka mengendalikan boneka melalui pendekatan hukum dan konstitusi yang sudah disiapkan sebelumnya sehingga sesuai dengan visi penjajah. Mereka tampak mengakomodasi hukum adat sepanjang tidak menginspirasi permusuhan terhadap penjajah. Jika penguasa mencoba melawan penjajah, ia akan membentur tembok konstitusi sehingga ia justru akan tumbang sendiri.

Selain dua model ini, ada lagi model Inggris dan Amerika. Pendekatan Inggris, kendali dilakukan dari dalam istana dan konstitusional. Sedangkan pendekatan Amerika, jika ada penguasa yang tidak loyal kepadanya, dikirim pasukan yang akan mengkudetanya dengan kasar sesuai dengan arogansinya sebagai penguasa tunggal dunia. Saksikan pendekatan ini di Amerika Selatan (Latin) dan berbagai wilayah lain. Menyadari fakta ini, Yahudi belakangan lebih suka membonceng Amerika disebabkan nafsu mereka lebih cepat tersalurkan dengan gaya cowboy Amerika.

5- Perang Dingin dan Jihad Afghan. Setelah tercapai keseimbangan kekuatan antara AS dengan US dengan masing-masing memiliki senjata nuklir, pertempuran bergeser menjadi perang ideologi antara keduanya. Pertempuran bersenjata hanya terjadi antara sekutu kedua belah pihak, bukan antara AS dan US secara langsung. Mereka masing-masing sibuk mengekspor ideologi kepada negara-negara tetangga. Afghanistan kemudian menjadi medan pertempuran dan rebutan pengaruh antara keduanya setelah US menggelar pasukan di sana.

Tantangan ini dijawab oleh dua kubu sekaligus:

Kubu pertama, hamba-hamba Allah yang dada mereka membuncah dengan iman kepada Allah dan pembelaan terhadap tanah milik umat Islam. Mereka mengukur harga diri hanya dengan keberhasilan menegakkan hukum Islam. Mereka berbondong-bondong turun gunung dalam rangka menghadang invasi US yang kala itu dikenal memiliki kekuatan darat terhebat di dunia. Mujahidin pelan-pelan mampu memberikan perlawanan dengan ijin Allah. AS cerdik melihat perkembangan situasi, dan memanfaatkannya sebagai momentum membalas kekalahan memalukan di Vietnam melawan blok Komunis yang jelas di belakangnya ada US. Di samping itu tentu saja dalam kalkulasi mereka, jika US dapat dihadang pergerakannya, setidaknya kepentingan mereka di Teluk bakal aman. Posisi strategis kubu pertama ini memicu lahirnya kubu kedua.

Kubu kedua, koalisi Yahudi dan Kristen (Barat) yang dipimpin Ronald Reagan, presiden Amerika saat itu. Mereka mengeluarkan kebijakan agar semua sekutu muslimnya mengobarkan sentimen agama (Islam) di tengah rakyatnya dalam rangka menghadang pergerakan agresif US. Kebangkitan Islam mendapat momentum untuk tumbuh dipicu pembelaan terhadap Afghan dan tidak adanya gangguan dari koalisi Yahudi-Kristen. Mereka membiarkannya, bahkan dalam beberapa kasus mendukungnya, setidaknya dengan himbauan yang mereka keluarkan kepada para sekutu agar mengulurkan bantuan materi untuk ‘jihad Afghan’ (istilah yang sengaja mereka gunakan agar jihad tetap bercitra lokal Afghan, tidak menjadi tren global).

Misi lain yang ingin dicapai koalisi adalah kalahnya Uni Sovyet oleh umat Islam, atau sebaliknya. Kalaupun tidak kalah salah satu, pasti keduanya mengalami kerugian yang tak sedikit baik secara personal maupun materi. Setelah keduanya kelelahan dan lemah, Amerika mengeruk ghanimahnya.

Tapi ternyata skenario tidak sepenuhnya sesuai harapan koalisi. Rupanya majahidin dari seluruh penjuru dunia Islam hadir membantu. US akhirnya tumbang. Mujahidin kemudian pulang ke daerah asalnya masing-masing dengan membawa oleh-oleh ideologi jihad. Tak bisa dibendung, tren jihad menjadi selera global di seluruh pelosok dunia. Mujahidin bukan pegawai negeri yang ditugaskan untuk jihad, tapi orang-orang swasta yang merdeka. Tak ada konstitusi yang mampu menghadang penyebaran gagasan jihad, karena memang mujahidin dikenal tak mau tunduk pada konstitusi pemerintah yang ada. Mereka bahkan tak terbatasi oleh garis teritorial negara, karena bagi mereka umat Islam tak memiliki batas wilayah yang pasti.

Al-Qaeda kemudian muncul sebagai icon jihad global, juga Taliban. Jihad menjadi ruh perlawanan di Somalia, Bosnia, Cechnya dan belahan bumi lain. Bahkan gagasan jihad sudah pernah diterjemahkan secara nyata di tanah Amerika – New York dan Washington – yang bermakna tamparan keras di wajah koalisi Yahudi dan Kristen Barat dengan serangan Black September yang fenomenal.


Bagian kedua

Masuknya Uni Sovyet ke Afghan dan pembiaran terhadap mujahidin yang sedang melakukan perlawanan adalah kesalahan strategi yang kini disesali Barat. Pasalnya, belum lama – awal abad 20 – mereka sukses memecah belah umat Islam, kini dengan jihad Afghan umat Islam bersatu kembali. Barat khawatir, jihad menjadi pintu kemenangan umat Islam. Memang kadang di balik musibah ada berkah. Semenjak runtuhnya Khilafah, umat Islam belum pernah bisa bersatu sebagai umat (bukan sebagai negara-negara atau bangsa-bangsa) kecuali saat jihad Afghan.

Dengan kata lain, umat Islam semenjak meninggalkan jihad belum pernah bisa bersatu, tapi setelah mereka kembali kepada agamanya (ideologi jihad), mereka bersatu kembali. Jihad berperan sebagai pemersatu. Kita tahu bahwa kita ada yang berasal dari Saudi, Mesir, Iraq, Syam, Maroko, Mauritania, Sudan, Libya, Somalia, Indonesia, Patani (Thailand), Maladewa, Malaysia, Filipina, Pakistan, Bangladesh, India, Tajikistan, Turkistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Turki dan Iran. Tapi kita semua adalah umat Islam yang satu. Rabb kita satu. Agama kita satu. Obsesi kita satu.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya umat ini adalah umat kamu; umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku. (QS Al-Anbiya’: 92)

Senada dengan ini, Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya umat ini adalah umat kamu; umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. (QS Al-Mukminun: 52)

Saya yakin, sepanjang pengamatan saya, bahwa garda depan dalam persatuan ini adalah kelompok jihad pembela agama Allah yang biasa dikenal sebagai Al-Qaeda. Kelompok yang mencerminkan umat Islam dalam wajah baru.

Saya harap paparan saya ini tidak terlalu panjang. Intinya, saya ingin menggambarkan kilasan sejarah umat Islam abad lalu dalam satu atau dua halaman.


Fase Kedua: Perbudakan Penuh


Setidaknya, ungkapan ini mewakili obsesi Barat terhadap umat Islam. Tapi faktanya jauh panggang dari api. Allah SWT berfirman:

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah: 32)

1- Menawarkan strategi ‘memahami, kompromi dan menerima realitas’ kepada umat Islam melalui para penguasa dan cendekiawan Arab. Tawaran ini disambut dengan antusias oleh penguasa Arab, diantaranya raja Abdullah dari Saudi Arabia.

2- Merekayasa kesiapan psikologis masyarakat (umat Islam) dengan sejumlah doktrin dan pemaksaan, untuk menerima realitas kekuatan Israel, keunggulan militernya dan dukungan Barat yang membabi-buta. Kita bisa mengukur tekanan yang dilancarkan Ariel Sharon terhadap rakyat Palestina, meski dilawan sekuat tenaga dengan segenap pengorbanan darah dari pihak rakyat Palestina. Sebagaimana tekanan yang dilakukan Amerika terhadap rakyat Iraq.

3- Pada bulan-bulan ini (pertengahan 2002 hingga pertengahan 2003) saja kita dapat saksikan munculnya upaya-upaya persekongkolan antara Yahudi-Kristen dengan mitra mereka dari kalangan penguasa dan pengkhianat. Mereka mengagendakan untuk menetralisir dunia Islam dari unsur-unsur perlawanan bersenjata. Caranya, memukul gerakan jihad melalui serangkaian operasi pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpinnya dan menangkap anak buahnya. Operasi ini dilakukan secara terukur dan fokus agar tak memancing – sebisa mungkin – keresahan publik. Operasi dilaksanakan dengan jargon ‘membasmi pengacau keamanan’. Pada ranah opini, gerakan jihad digiring untuk berhadap-hadapan dengan pemerintah yang menawarkan ‘kebebasan’ ala Sekularisme sehingga masyarakat berpihak kepada pemerintah. Bentuk pengkondisian psikologis agar pemerintah mudah melakukan pembunuhan dan penangkapan.

Ada hal yang lebih berbahaya dari itu; menceraikan mujahidin dari umat Islam, dengan menjulukinya sebagai kaum Khawarij, kelompok sesat, dan hanya minoritas yang tidak mewakili suara umat Islam bahkan umat Islam berlepas diri dari pemikiran mereka. Dari sini, kelompok jihad – baik yang sudah matang maupun yang amatiran – hendaknya tidak jatuh pada lobang yang sama untuk kedua kalinya. Ingatlah, kita sedang menunggu datangnya momentum saat koalisi Yahudi Nasrani menginvasi umat Islam, saat boneka-boneka mereka kehilangan kartu truf, dan pasukan keamanan kehilangan kendali. Inilah momentum kita untuk mulai beraksi. Tapi diperlukan sejumlah persiapan, yang akan saya terangkan pada pembahasan berikutnya.

4- Penguasaan SDA dan menata ulang peta geopolitik dunia. Mereka merancang agar wilayah-wilayah yang kaya SDA bisa dikuasai PBB (Amerika) melalui tangan para komprador lokal. Mereka mengagendakan berdirinya Israel Raya yang membentang dari Nil (Mesir) hingga Euphrat (Iraq). Mereka juga menyiapkan berdirinya pemerintahan Nasrani di Mesir selatan dan membagi kekuasaan di Sudan (Islam dengan Kristen). Juga merancang kekuasaan sunni di Hijaz sampai saat tertentu, dan agenda-agenda lain. Oleh karenanya, mereka mengangkat agen-agen yang memiliki komitmen menjaga kepentingan mereka, dan mengawal masa depan mereka. Untuk melapangkan skenario ini, mereka memecah belah umat Islam sedemikian rupa. Bertolak dari sini, kita menjadi tahu makna kalimat Bush: Ini adalah perang salib baru…
Jangan pernah mengira bahwa skenario ini akan terjadi. Tidak, untuk selamanya. Kita yakin dengan firman Allah berikut:

36. Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, 37. Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka jahannam. mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS Al-Anfal: 36-37)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar