Sabtu, 12 Mei 2012

PRINSIP-PRINSIP GERILYA KOTA (1-6)


PRINSIP-PRINSIP GERILYA KOTA
Perang gerilya adalah cara alami untuk melawan musuh yang memiliki
kekuatan lebih besar. Terutama jika dalam kenyataannya, para pejuang
negeri yang terjajah tidak mampu berhadap-hadapan langsung dalam
pertempuran terbuka melawan kekuatan bersenjata professional milik rejim
yang berkuasa, atau tentara penjajah asing.
Demi alasan ini, gerilya mengadopsi strategi untuk menyerang musuh
secara terus menerus dan sedikit demi sedikit, hingga musuh merasa
terganggu dan kelelahan menghadapi serangan, daripada harus
menghadapi mereka secara langsung.
Perang gerilya, berdiri tegak di atas strategi hit and run, atau
‘bertempur dan melarikan diri demi mempertahankan hidup agar dapat
bertempur kembali di kemudian hari.’ Peperangan ini adalah peperangan
yang penuh tipu daya dan ilusi, penuh kejutan dan tidak terduga.
Di negara-negara agraris yang miskin, seperti Kuba, El-Salvador,
Filipina, Afghanistan, atau di negara-negara bekas pecahan Uni Sovyet,
perang gerilya difokuskan di daerah-daerah perbatasan. Negara-negara ini
memiliki daerah-daerah pedalaman yang sesuai untuk operasi gerilya
jangka panjang. Seperti, hutan belantara dan semak belukar yang tidak
dapat dimasuki, sarana transportasi yang langka, jumlah penduduk yang
sedikit,serta sedikit atau tidak adanya sistem komunikasi. Dalam jenis
territorial semacam ini, sistem Gerilya Hutan adalah metode yang paling
efektif untuk melawan rezim yang berkuasa.
Akan tetapi, dalam sebuah Negara Industri, yang terdiri dari
masyarakat perkotaan, seperti Negara-negara di Amerika Utara, Eropa dan
Rusia, strategi di atas tidak dapat diterapkan sama sekali. Dalam kondisi
seperti ini, perang gerilya harus dijalankan di pusat-pusat urat nadi
kehidupan di kota, demi melawan rejim yang berkuasa.
Karakteristik utama dari sebuah daerah gerilya yang sukses adalah,
tingkat mobilitas yang tinggi, tingginya serangan kejutan terhadap musuh,
kemampuan pasukan gerilya untuk menguasai wilayah gerilya,

pengetahuan yang mendalam tentang daerah gerilya, serta dukungan dari
masyarakat setempat. Aneka taktik semacam ini telah digambarkan dalam
begitu banyak teks tentang daerah gerilya.
Secara umum, strategi perang gerilya kota hampir sama dengan
taktik gerilya di daerah pedalaman. Para pejuang yang bertempur di
Negara-negara rejim Industri-perkotaan tetap harus berpijak pada prinsipprinsip
mobilitas, kejutan, penguasaan wilayah, pemahaman tentang daerah
gerilya dan dukungan masyarakat.
Meskipun demikian, sistem gerilya kota menghadapi permasalahan
yakni tidak adanya sistem pendukung lokasi, sebagaimana yang ada pada
gerilya di daerah pedalaman. Karena para gerilyawan kota berjuang tepat di
tengah-tengah kekuasaan rejim penguasa.
Jika gerilyawan hutan dapat masuk ke pedalaman untuk menghindari
pertempuran, dan memiliki kesempatan untuk menata kembali barisannya
untuk beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk kemudian
bertempur lagi. Maka, gerilya kota justru menempati tempat yang
berbahaya, bahkan dapat segera dikepung oleh polisi dan tentara
pemerintah dalam hitungan menit.
Selanjutnya, jika gerilyawan hutan dapat beroperasi di pegunungan
dan hutan belantara, jauh dari jangkauan pengamatan musuh, maka
gerilyawan kota justru beroperasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat
yang padat, siapa saja yang ada di kanan/kiri si gerilyawan sangat mungkin
menjadi mata-mata atau kaki-tangan musuh. Dengan kata lain, gerilyawan
kota benar-benar menghadapi persoalan keamanan yang teramat sulit.
Akan tetapi, bagaimanapun juga gerilyawan kota memiliki sejumlah
keuntungan. Kesuksesan aksi yang mereka jalankan tidak dapat ditutuptutupi
oleh penguasa dari pandangan masyarakat. Hal ini memberikan
harapan bagi masyarakat, sekaligus menunjukkan bahwa rejim yang
berkuasa bukanlah rejim yang tidak bisa dipukul sama sekali.
Lebih kongkritnya, pasukan gerilya kota akan menemukan bahwa
aneka kebutuhan hidup seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, senjata
dan amunisi jutru tersedia secara lebih lengkap di perkotaan. Daripada
ketika bergerilya di pegunungan atau hutan. Selain itu, gerilyawan kotadapat menemukan begitu banyak orang yang menyediakan diri sebagai
perisai baginya, sehingga ia dapat membaur ke dalam masyarakat, serta
memiliki kesempatan untuk menghilangkan identitas diri, hingga ketika
memulai sebuah serangan baru.
Target-target gerilya kota memiliki perbedaan, jika dibandingkan
dengan gerilyawan pedalaman. Jika gerilyawan pedalaman menyerang pospos
garis depan milik musuh dan menyerang konvoi suplai logistic musuh.
Maka, gerilya kota menyerang target-target terpusat, seperti bank dan
lembaga-lembaga keuangan negara, kantor-kantor komunikasi, pembangkit
listrik, markas kepolisian dan militer, gudang senjata, kantor-kantor
pemerintahan, atau pejabat rejim yang berkuasa.
Kemampuan untuk berpindah-pindah secara cepat, menjadi senjata
terpenting bagi seorang gerilyawan kota, terutama karena kondisinya yang
begitu mudah dikepung oleh pasukan keamanan Negara. Pengepungan
terbukti berakibat fatal bagi pergerakan gerilya kota.
Oleh sebab itu, operasi gerilya haruslah dirancang dengan benarbenar
teliti, sehingga tim gerilya dapat segera menghilangkan jejak,
sebelum pasukan keamanan negara datang ke tempat aksi.
Kendaraan roda empat (mobil), memiliki nilai yang tidak terhingga
dalam operasi gerilya kota. Dan setiap gerilyawan harus terbiasa melakukan
operasi perampasan mobil, van dan truk. Seringkali, sebuah operasi tunggal
membutuhkan usaha untuk mendapatkan sejumlah kendaraan yang
berbeda-beda.
Operasi gerilya kota harus benar-benar menjalankan konsep “hit and
run” hingga ke tingkat ekstrim. Dengan kata lain, gerilyawan datang ke
tempat target, meluncurkan serangan dan menghilang di jalanan, semua itu
harus bisa dilaksanakan dalam hitungan menit.
Adanya kenyataan bahwa pasukan keamanan dapat mengambil
gambar kendaraan-kendaraan yang digunakan dalam operasi, maka para
gerilyawan harus menetapkan rencana untuk menghindari para pemburu
dan blockade jalan yang pasti akan dihadapi, ketika sedang melarikan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar