Rabu, 25 Juli 2012

MENANG KALAH DALAM PERJUANGAN (MUQODIMAH)


Segala puji bagi Alloh, Dzat Yang telah mensyariatkan ajaran yang lurus bagi kita semua serta menunjukkan kepada kita jalan yang lurus.
Semoga sholawat dan salam tercurah selalu kepada pengajar seluruh makhluk, kepada ciptaan Alloh yang terbaik, pemuka Bani Adam, Muhammad bin Abdulloh, semoga sholawat terbaik dan salam paling sempurna tercurahkan selalu kepada beliau, kepada keluarga serta para shahabat beliau seluruhnya.
Wa ba‘du…
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap jalan perjuangan itu ada perkara-perkara baku yang tak bisa dilanggar serta ada hal-hal yang bersifat elastis, bisa berubah-ubah sesuai kondisi.
Perkara yang baku tidak boleh berubah ataupun terganggu dengan berubahnya zaman, tempat atau tokoh. Rasa mantab dan yakin terhadap perkara baku ini karena kebakuannya disandarkan kepada nash-nash yang kokoh dan pengetahuan yang absolut sehingga tidak mungkin ia akan terganti atau berubah. Perkara-perkara prinsip ini tak ubahnya gunung yang menjulang, memiliki mercusuar-mercusuar yang sangat terang sehingga setiap orang yang menempuh jalan bisa menja-dikannya sebagai lentera petunjuk.
Sebaliknya dengan perkara-perkara yang elastis, ia adalah perkara bersifat kasuistik yang muncul di antara perkara-perkara baku, hal-hal elastis ini hanya bersifat cabang, bukan prinsip, ia bisa berubah-ubah sesuai perubahan zaman, tempat dan generasi. Hal-hal yang elastis ini memiliki kaidah-kaidah syar`i bersifat umum di mana perinciannya disesu-aikan mengikuti ilmu-ilmu pengantar yang ditetapkan para mujtahid dengan tetap berlandaskan dalil-dalil syar‘i, perkara ini bisa didiskusikan dan didialogkan.
Yang menjadi fokus pembahasan kami di sini dan khususnya di masa-masa sekarang, adalah menjelaskan rambu-rambu baku yang ditetapkan nash-nash syar`i kaitannya dengan urusan jihad. Rambu-rambu baku ini pada hari ini sangat-sangat perlu untuk kita aktualkan, kita publikasikan serta kita pahami kembali.
Hari ini, kita, dalam kondisi umat yang dilanda luka menganga yang begitu lebar, perlu kembali kepada perkara-perkara prinsip yang kita miliki di mana mereka-mereka yang suka melemahkan semangat kaum muslimin mulai gencar memperbin-cangkannya kembali. Sayangnya, mereka lantas menambah-nambahi-nya dengan tujuan mengkaburkannya seolah perkara baku ini adalah perkara yang justru bersifat elastis, jadi sebaiknya –kata mereka—kita tidak usah terlalu berkomitmen dengan perkara-perkara baku itu.
Nah, di hadapan pembaca –yang kami cintai karena Alloh— akan kami ke tengahkan beberapa perkara baku, bukan semuanya, yang menggam-barkan kepada kita bagaimana jihad itu harus dilakukan.
Tujuan kami menulis perkara-perkara prinsip ini adalah membebas-kan manhaj jihad dari berbagai belen-ggu yang mengikatnya secara dzalim dan jahat.
Manhaj jihad hari ini menghadapi berbagai opini yang coba menghan-curkannya, atau paling tidak usaha membatasi dan mengikatnya dengan ikatan yang tidak berlandaskan dalil-dalil syar`i.
Barangkali opini itu muncul dise-babkan cara memahami yang tidak tepat diikuti penerapan yang tidak pas oleh orang yang menyerukannya.
Salah satu penghalang di atas jalan jihad adalah sikap merasa pandai yang ditampilkan oleh mereka yang mengaku dirinya fakih (faham dien) yang mana mereka menetapkan harus ada syarat-syarat begini dan begitu sebelum melaksanakan jihad, padahal setelah dikaji tidak ada seorang ulama Islampun sebelumnya yang mensyaratkan seperti yang ia syaratkan.
Penghalang lain adalah muncul-nya orang-orang Islam sendiri yang melemahkan semangat kaum musli-min lain yang tak bosan-bosannya bernyanyi di forum-forum perte-muan, kata mereka jihad tidak relevan lagi di zaman sekarang.
Sedangkan penghalang jihad yang paling utama adalah persekong-kolan salibis yang sudah menabuh genderang perangnya untuk membe-rangus jihad, wajar hal ini dilakukan karena musuh sadar bahwa jihad ini mengancam kepentingan-kepentingan penjajah Amerika yang bercokol di berbagai belahan negeri kaum muslimin.
Mempublikasikan kembali perka-ra-perkara jihad yang baku ini dengan izin Alloh akan menjamin lurus tidak-nya pemahaman tentang jihad sekali-gus untuk membersihkan penghalang-penghalang yang tak sewajarnya ada dan penghalang-penghalang jahat yang ada di atas jalan jihad.
Setelah meluruskan pemahaman, barulah kita ikat syiar jihad ini dari sisi ruhiyah (moralitas), kemudian dari sisi pemikiran, kemudian dari sisi manhaj, terakhir dari sisi praktek nyata di lapangan.
Menghidupkan syiar jihad me-merlukan usaha keras untuk mene-rangkan dan menjelaskan kepada orang. Penjelasan di sini bukan semata penjelasan terbatas kepada pengetahuan fikih yang jauh dari penerapan nyata, meskipun mene-rangkan fikih ini juga diperlukan agar orang lain faham, namun perlu sebuah metode yang mampu menghantarkan fikih dan ibadah jihad tadi kepada realita dalam kehidupan nyata seperti yang dilakukan Nabi SAW dan para shahabatnya –Radhiyallohu ‘Anhum—.
Sebagai contoh membebaskan sebuah ibadah dari belenggu-belenggu ikatan –sekedar memperjelas— misal-nya adalah ibadah sholat. Alloh men-syariatkannya kepada orang-orang sebelum kita, tetapi Alloh mengikat pelaksanaan ibadah ini dengan tem-pat-tempat tertentu, seperti harus dilakukan di biara, gereja-gereja dan tempat ibadah lain. Ketika Alloh syariatkan sholat kepada umat Muhammad SAW, Alloh bebaskan ibadah sholat ini dari ikatan tempat, maka Alloh memberikan kepada Nabi SAW apa yang tidak Dia berikan kepada nabi sebelum beliau, seperti yang tercantum dalam Shohih Bukhori Muslim bahwasanya Rosululloh SAW bersabda –dalam riwayat Jabir—,
(وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِداً وَطُهُوْراً وَأَيُّمَا رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ)
“Dan tanah dijadikan masjid dan suci bagiku, maka di mana saja seseorang dari umatku masuk waktu sholat, hendaknya ia sholat,"
Jadilah tanah itu semuanya bisa untuk sholat kecuali tujuh tempat yang dikecualikan berdasarkan nash-nash lain, itupan dalam kalau dalam kondisi lapang, bukan terpaksa.
Membebaskan ibadah ini dari belenggu ikatan tadi menjadikan setiap hamba mudah sekali untuk melaksanakannya.
Yang perlu dicatat di sini, peletakan dan penghapusan ikatan seperti ini merupakan syariat dari Alloh SWT karena hikmah yang diketahui-Nya.
Sekarang, dalam menjelaskan prinsip-prinsip baku dalam jihad, kami mencoba menghilangkan belenggu-belenggu yang datang tak bertanggung jawab, belenggu-belenggu buruk dan jahat yang disematkan sampah-sampah berujud manusia, mereka ini membenturkan belenggu tersebut dengan nash-nash syar`i yang sudah jelas kesahihan dan maksud isinya.
Sebagai contoh, ada di antara mereka kita dengar mengatakan bahwa melawan arus kebudayaan-kebudayaan modern sama artinya dengan kehancuran dan keterpurukan dan Islam berlepas diri darinya, kita harus melakukan adaptasi dengan kebudayaan, kita perlu perdamaian dan membuang jauh-jauh aksi-aksi kekerasan serta perlawanan bersenja-ta (baca: jihad).
Kita juga saksikan, tak terhitung lagi orang-orang yang bergabung dalam muktamar-muktamar yang tujuannya memerangi syiar jihad atau memberangusnya dengan mengatas namakan sikap toleransi, Islam yang moderat, pendekatan antar agama secara dialog.
Alangkah kontrasnya sikap restu orang-orang yang mengaku Islam ini dengan persekongkolan salibis yang sudah sangat-sangat jelas memulai serangan agresifnya terhadap jihad dan mujahidin.
Kita juga melihat diri kita sedang berhadapan dengan orang-orang Islam sendir yang jumlahnya tidak sedikit, mereka ini ikut ‘mengamini’ muktamar-muktamar dan forum-forum pertemuan yang diadakan dalam rangka memerangi jihad, walaupun mereka mengganti label jihad dengan jargon perang melawan kekerasan atau perang melawan terorisme.
Maka dalam rangka menyambung keterangan rambu-rambu jihad yang bersifat baku serta dalam rangka menangkal statemen-statemen yang hendak menggulingkan jihad di sana sini, terlebih dahulu kita bahas dua rambu prinsip. Dengan memahami keduanya, ketidak adilan yang muncul dalam menilai jihad akan hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar